OLEH IDA FITRI HANDAYANI, Guru SMA 4 Banda Aceh dan anggota Warung Penulis, melaporkan dari Banda Aceh

Belajar adalah kewajiban bagi semua muslim, baik di sekolah yang terbilang formal, maupun di luar sekolah yang nonformal. Misalnya, privat dan bimbingan belajar yang kini makin terstruktur.

Hakikat belajar tidak mesti di sekolah. Di Aceh banyak sekali balai edukasi yang bisa dijadikan tempat menimba ilmu. Ada yang berbayar dan tidak sedikit pula yang gratis.

Akhir-akhir ini Allah menghendaki kesempatan bagi saya untuk masuk ke sebuah lembaga, yaitu Yayasan Cahaya Aceh yang didirikan tahun 2017 atas inisiatif putra Aceh, Azwir Nazar. Dia adalah mantan pengurus Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki tahun 2016-2017.

Sebelum mendirikan yayasan, ia kuliah S1 di UIN Ar-Raniry, S2 di Universitas Indonesia, dan menyelesaikan S3 di Haccetepe University, Ankara, Turki. Setelah menyelesaikan studi, ia punya mimpi selangit untuk mendirikan lembaga yang bermanfaat untuk Aceh. Maka lahirlah Yayasan Cahaya Aceh. Banyak sekali program unggulan yang ditawarkan yayasan ini, seperti program pendidikan umum, keagamaan, dan kemanusiaan.

Semua program itu dijalankan oleh relawan-relawan yang setiap hari makin bertambah jumlahnya. Mereka berkontribusi untuk kemajuan Aceh dengan ikhlas. Tak ada gaji atau honorarium yang mereka dapatkan, selain keridaan dari Allah.

Yayasan Cahaya Aceh terletak di Jalan Laksamana Malahayati, Km 10, Lambada Lhok, Kecamatan Baitussalam, Aceh besar. Lokasinya sudah ada di Google maps. Jadi, sangat mudah dicari bagi yang belum pernah berkunjung ke tempat ini.

Meski terbilang jauh dari pusat kota, tapi peminatnya selalu ramai. Keinginan belajar warga setempat di yayasan ini pun sangat tinggi.

Yayasan ini berdiri dengan visi dan misi yang tak kalah menarik, yaitu “Aceh sebagai spirit membangun peradaban yang damai, humanis, mandiri, dan sejahtera.”

Beberapa misi yang terus digalakkan adalah mendorong dan memfasilitasi masyarakat untuk terus belajar, berkarya, dan berprestasi. Menanamkan nilai-nilai perdamaian, humanisme, dan keadilan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Menumbuhkembangkan semangat dan mendorong kemandirian ekonomi demi kehidupan yang lebih bermartabat dan sejahtera. Menciptakan dan menfasilitasi kebutuhan masyarakat di bidang pendidikan, sosial, kemanusiaan, dan keagamaan.

Melihat geliatnya, Yayasan Cahaya Aceh sepertinya ingin mengambil bagian memajukan Aceh dalam berbagai sektor. Juga menumbuhkan minat belajar yang digagas dan dikemas lebih menarik agar mudah diterima oleh peserta didik dan masyarakat.

Cahaya Aceh selalu menciptakan terobosan-terobosan baru dengan program yang sudah disusun. Kegiatannya dilakukan mulai Senin sampai Minggu. Selalu terisi dengan kegiatan pendidikan, keagaman, dan kemanusiaan.

Belajar Gratis

Program yang sudah diatur dengan tujuan mulia tersebut, bisa diikuti oleh semua kalangan tanpa batas dan tidak berbayar alias kiri kanan gratis.

Selain dari kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas, Yayasan Cahaya Aceh juga menjalankan program-program populer, di antaranya menumbuhkan kecintaan untuk belajar bahasa asing. Zaman now, bahasa asing tentu sangat dibutuhkan untuk memudahkan manusia dalam berinteraksi. Terutama bahasa Arab yang menjadi bahasa agama. Juga bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa internasional yang paling banyak penuturnya. Bahasa Turki juga menjadi pelajaran penting di yayasan ini.

Persoalan literasi, terutama minat baca menjadi harapan besar Yayasan Cahaya Aceh.

Dengan membaca kita bisa melihat dunia yang amat luas. Yayasan mewajibkan peserta didik mengikuti program membaca. Untuk mendukung literasi, di sudut balai pengajian terlihat sebuah rak buku atau perpustakaan mini yang dipenuhi aneka buku bacaan. Semua koleksi merupakan sumbangan dari donatur, baik dalam maupun luar negeri. Anak-anak dituntut agar menyisihkan waktu untuk membaca.

Humanis

Selain proses belajar-mengajar, Yayasan Cahaya Aceh juga melakukan kegiatan sosial. Selama Ramadhan, Yayasan Cahaya Aceh mengadakan kegiatan buka puasa bersama dan santunan anak yatim. Anak-anak yang tiada ayah itu diundang dari Kecamatan Baitussalam, Mesjid Raya, dan Darussalam. Khususnya wilayah terdekat dengan sekretariat lembaga ini.

Kegiatan tersebut rutin dilakukan setiap tahun. Bulan lalu, Yayasan Cahaya Aceh juga menyalurkan bantuan sembako untuk warga miskin dari berbagai kampung di Aceh Besar. Pemberian memang tidak mewah, tapi memiliki makna tersendiri bagi para donatur dan relawan.

Dalam menjaga komitmen berbangsa dan solidaritas, Yayasan Cahaya Aceh juga ikut serta dalam membantu korban gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pada tahun lalu, bantuan yang diserahkan berupa sembako dan keperluan pengungsi seperti air mineral, beras, mi instan, dan lainnya. Pengumpulan donasi tersebut dilakukan dengan melakukan kampanye di media sosial melalui fanspage dan instagram.

Nah, bagi yang ingin belajar gratis dan mengajar tanpa bayaran, artinya mengajar ikhlas, maka datanglah ke Yayasan Cahaya Aceh. Jangan pernah bersedih sebab tak punya biaya untuk sekolah, sebab banyak dermawan yang peduli pada anak bangsa. Jangan pernah mengaku selesai sarjana jadi pengangguran, sebab bekerja tak hanya tentang gaji, tapi juga tentang pengabdian untuk umat, negara, dan bangsa.

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Tak Selamanya Belajar Itu Berbayar, https://aceh.tribunnews.com/2019/08/20/tak-selamanya-belajar-itu-berbayar?page=all&fbclid=IwAR3g_Iie2lSiB9keplVhmE39ewMaF50PHfpRyNTLy3JTQrC3WXaopU9xNH4.

Editor: bakri